“Bersyukur” it’s so simple buat kita
lakuin. Kita hanya mengucapkan terimakasih kepada Allah atas segala yang telah
diberikan-Nya atau dengan mengucapkan “Alhamdulillah”, kita juga sudah dapat
bersyukur.
Tapi apakah kalian sudah bersyukur? kebanyakan orang pasti lupa untuk bersyukur. Termaksud gue. Tapi itu dulu sih, kalau sekarang InsyaAllah gue akan selalu mengingat untuk bersyukur kepadaNya.
Tapi apakah kalian sudah bersyukur? kebanyakan orang pasti lupa untuk bersyukur. Termaksud gue. Tapi itu dulu sih, kalau sekarang InsyaAllah gue akan selalu mengingat untuk bersyukur kepadaNya.
Sedikit berbagi pengalaman, dulu
waktu gue masih duduk di Sekolah Dasar (SD), gue adalah salah satu dari banyaknya
orang yang lupa akan Bersyukur. Gue
selalu merasa bahwa diri gue itu serba kekurangan, gue selalu kepingin
mempunyai apa yang dimiliki teman-teman gue, sampai keseringan berandai-andai
yang terlalu berlebihan.
Contohnya, dulu waktu gue kelas 6 SD, gue udah mulai dilatih sama orangtua buat belajar pulang sendiri naik “Angkot”, gue seneng sih bisa belajar mandiri saat itu, tapi lagi-lagi lingkungan yang kadang membuat gue menjadi “Minder”, dari situ mulai gue berandai-andai, “Enak ya, temen-temen gue, pergi diantar, pulang di jemput, dengan supir pribadi pula, kalau bel pulang sudah berbunyi, disamperin sama supirnya, tas sekolah dibawain sama supirnya. Coba aja, bokap gue ngasih supir pribadi buat antar jemput layaknya teman-teman SD gue, gue kan gak harus nunggu angkot, kepanasan, capek, dsb.” Tapi itu hal yang wajar menurut gue, namanya juga waktu itu gue masih kecil, dan lingkungan sekolah gue yang rata-rata orang berpunya, dan dari golongan atas.
Tapi Alhamdulillah banget, setelah gue masuk ke MTs, gue mulai bisa menggunakan otak gue lebih dewasa lagi untuk berfikir bahwa “kita memang akan lebih sulit untuk bersyukur ketika kita berada di golongan atas (dalam hal kekayaan), karena kita akan selalu melihat keatas, dan jarang untuk melihat kebawah”
Contohnya, dulu waktu gue kelas 6 SD, gue udah mulai dilatih sama orangtua buat belajar pulang sendiri naik “Angkot”, gue seneng sih bisa belajar mandiri saat itu, tapi lagi-lagi lingkungan yang kadang membuat gue menjadi “Minder”, dari situ mulai gue berandai-andai, “Enak ya, temen-temen gue, pergi diantar, pulang di jemput, dengan supir pribadi pula, kalau bel pulang sudah berbunyi, disamperin sama supirnya, tas sekolah dibawain sama supirnya. Coba aja, bokap gue ngasih supir pribadi buat antar jemput layaknya teman-teman SD gue, gue kan gak harus nunggu angkot, kepanasan, capek, dsb.” Tapi itu hal yang wajar menurut gue, namanya juga waktu itu gue masih kecil, dan lingkungan sekolah gue yang rata-rata orang berpunya, dan dari golongan atas.
Tapi Alhamdulillah banget, setelah gue masuk ke MTs, gue mulai bisa menggunakan otak gue lebih dewasa lagi untuk berfikir bahwa “kita memang akan lebih sulit untuk bersyukur ketika kita berada di golongan atas (dalam hal kekayaan), karena kita akan selalu melihat keatas, dan jarang untuk melihat kebawah”
Kehidupan di MTs dengan yang gue
rasakan di SD beda sekali. Arti bersyukur menjadi pentiiinnggg banget di
kehidupan gue. karena kalo ngomongin golongan, bisa dibilang sekolah gue
termaksud hanya ke dalam golongan menengah, tapi justru itu gue malah banyak ngambil
pelajaran dari sana.
Pernah beberapa kali gue main ke rumah teman yang kondisi rumahnya hanya cukup untuk berteduh dan beristirahat. Rumahnya memang layak, namun mungkin itu hal yang membosankan karena mempunyai rumah yang tidak besar. Ketika ingin bermain, Cuma bisa di kamar yang sempit, akhirnya memilih untuk keluar rumah. Tapi gue melihat mereka tetap bersyukur dengan keadaan yang mereka miliki, hidupnya sederhana namun bermakna. #aseek hehe..
Saat gue merenungkan itu, gue hanya bisa meneteskan air mata, dan berbicara dalam hati ini “Betapa tidak bersyukurnya diriku atas apa yang telah Engkau berikan lebih, Tuhan. Selama ini aku hanya bisa mengeluh, meminta, dan selalu merasa serba kekurangan padahal engkau selalu memberiku kelebihan, bahkan kelebihan itu belum tentu dimiliki oleh teman-temanku yang berlimpah kekayaannya. Kau berikan aku keluarga yang harmonis, orangtua yang perhatian dengan anak-anaknya. kau berikan keluargaku Rezeki yang cukup bahkan lebih, sehingga keluargaku masih dapat berekreasi bersama. Kau berikan rumah yang cukup luas. Kau berikan segalanya untuk hamba, Tuhan…. Betapa baiknya engkau, namun selama ini aku belum bersyukur kepadaMu..”
Pernah beberapa kali gue main ke rumah teman yang kondisi rumahnya hanya cukup untuk berteduh dan beristirahat. Rumahnya memang layak, namun mungkin itu hal yang membosankan karena mempunyai rumah yang tidak besar. Ketika ingin bermain, Cuma bisa di kamar yang sempit, akhirnya memilih untuk keluar rumah. Tapi gue melihat mereka tetap bersyukur dengan keadaan yang mereka miliki, hidupnya sederhana namun bermakna. #aseek hehe..
Saat gue merenungkan itu, gue hanya bisa meneteskan air mata, dan berbicara dalam hati ini “Betapa tidak bersyukurnya diriku atas apa yang telah Engkau berikan lebih, Tuhan. Selama ini aku hanya bisa mengeluh, meminta, dan selalu merasa serba kekurangan padahal engkau selalu memberiku kelebihan, bahkan kelebihan itu belum tentu dimiliki oleh teman-temanku yang berlimpah kekayaannya. Kau berikan aku keluarga yang harmonis, orangtua yang perhatian dengan anak-anaknya. kau berikan keluargaku Rezeki yang cukup bahkan lebih, sehingga keluargaku masih dapat berekreasi bersama. Kau berikan rumah yang cukup luas. Kau berikan segalanya untuk hamba, Tuhan…. Betapa baiknya engkau, namun selama ini aku belum bersyukur kepadaMu..”
Gue ngerasa beruntung pernah
bersekolah di SD yang golongannya orang “kaya”, dan bisa bersekolah di MTs yang
kehidupannya sederhana. Karena dari kedua sekolah itulah gue punya pengalaman
berharga; bisa membedakan yang mana kehidupan “Sebenarnya”. Dan gue jadi
mengerti akan arti Bersyukur yang teramat penting.
Sekarang gue mulai membiasakan diri buat
bersyukur setiap harinya, karena dengan bersyukur Allah tidak akan bosan
memberikan kita banyak Rezeki lohh. (hehe soktau) ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar