Jumat, 21 Maret 2014

Bicaralah. (Part1)





“Aku hanyalah aku, dan tetap akan menjadi aku”
The short sentence, but full of meaning.




Aku bisa dibilang orang yang bisa menahan masalah, artinya biarlah masalah itu berlalu, tidak ingin aku memperpanjangnya. Tapi aku tidak bisa menahahan masalah bila itu sudah terlalu berat dan tidak adil. Aku tidak suka orang yang pengecut, yang berani berbicara dibelakang, tak berani mengungkapkannya. Takut? buat apa takut bila itu sebuah kebenaran? “Jangan pernah takut, bila kamu yakin itu benar, mau kepada siapapun itu.”

“Bicaralah, karena dengan itu suatu persoalan dapat terselesaikan” Rumus sederhana, memang sulit sih untuk dijalani, apalagi bila itu adalah hal pahit yang harus dikatakan. Ibarat sebuah Ujian Matematika, bila dilakukan sesuai dengan tahapan-tahapan yang baik dan benar pasti akan mendapat hasil sempurna.


Kesulitan untuk memulai suatu pembicaraan sering aku alami, itu hal yang wajar menurutku, sebagai seorang manusia pasti mempunyai rasa tidak enak hati kepada sesamanya. Dan aku, aku adalah orang yang harus ‘dipancing’ baru akan memulai.

Pernah suatu ketika, aku tidak menyukai seorang teman di kelas, terlalu berlarut-larut aku pendam dan hanya bisa bercerita kepada teman dekat. Seiring berjalannya waktu, perubahan sikap ketidaksukaan aku terhadap si ‘dia’ mungkin menyadarkannya. Sindiran tak sehat mulai terlontar dari bibirku dan dibalas oleh bibirnya. Ingin rasanya aku berbicara langsung, bahwa aku tidak menyukainya dan ingin ia berubah atas sikapnya. Namun, rasa ‘tidak enak’ mengurungkan niatku.

Suatu ketika, ketika kita sedang berbalas sindir (berpura-pura tidak tahu, padahal saling mempunyai maksud) si ‘dia’ mulai memancing untuk aku berbicara mengatakan yang sebenarnya. Kondisi awal ketika memulai berbicara sangat menegangkan dan memanas, aku mengatakan semuanya tentang ketidaksukaan itu, dia membalas dengan memberikan alasan mengapa dia seperti itu, dia menangis dan rasa tak tegaku muncul. Rasa emosianalkuku mulai meredam, aku menyadari bahwa aku berbicara atas dasar aku menyanginya,  aku ingin ia bisa berubah. Dia menangis, aku tak tega, membuatku menangis. Dia menceritakan keluh kesahnya, dan mebuat aku sadar betapa teganya aku dan teman-teman memerlakukannya. Tak lama, tidak memerlukan waktu seharian atau bahkan berlarut-larut ketika kita berbicara, masalah selesai antara aku dan dia. Aku lega, diapun lega. Kami memulai hari esokpun seolah-olah tidak pernah ada masalah antara kita. Dan itu menyenangkan.

Cerita di atas adalah kali pertama aku bertatap wajah langsung dan berbicara dengan teman ketika duduk dibangku SMA. Belum genap setahun aku menduduki bangku SMA, namun setelah kejadian itu, aku sudah 2 kali bertatapan oleh guru, berbicara empat mata. Kesannya bandel banget gitu yaa, belum genap setahun aja udah punya dua kasus sama guru. Eitts, jangan negative thinking dulu. Bukan kasus karena aku anak bandel lhooo ya!

To be Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar