Mungkin
aku manusia yang lancang dan terlalu berani ya, bayangin aja mulai dari guru
yang biasa-biasa aja tidak ‘killer’ sampai seorang guru tua dan killer di
sekolah yang gak pernah mau kalah tetap aku ajak bicara ketika aku merasa itu
tidak adil bagiku. Kadang suka mikir juga sih kalo abis ngelakuin, ko berani
banget ya gueeee. Gila.
(✿◠‿◠)
(Pertama
kali berhadapan sama guru)
Waktu
itu, di sekolah sedang ada suatu kegiatan keagamaan yang memerlukan biaya.
Masing-masing anak dimintain uang untuk menyumbang agar acara tersebut
berlangsung. Gak masalah sih buat aku, toh itu dari kita untuk kita. Namun,
yang jadi masalah adalah nominal sumbangan yang ditentukan terlalu besar bila
dikali dengan murid yang banyak di sekolah.
Berhubung belum kerja, minta duit kan sama
ibunda tercinta, dan berhubung punya ibunda yang begitu kritis, dia protes sama
sekolah melalui aku. Gini protesnya, “Gimana
sih guru kamu, pemerintah udah gratisin sekolah ko masih nyari celah-celah aja
buat minta duit sama anak muridnya. Bayar sih gampang tinggal bayar, tapi kita
sebagai orang tua harusnya mendukung program pemerintah mengenai sekolah gratis
dengan tidak memberikan sekolah kesempatan memungut uang sepeser pun. Seharusnya
sekolah itu udah dapat dana dari pemerintah kalo mau ngadain kegiatan-kegiatan,
apalagi kegiatan rutin yang diadakan tiap tahun. Kalo kaya gitu, dikemanain
coba dananya? Mantan sekolah abang kamu aja nih, takut tuh untuk minta-mintain
uang kemuridnya semenjak sekolah gratis. Kalo guru kamu berani, seharusnya dia
bikin surat keterangan untuk mintain
sumbangan.” kurang lebih kaya gitu deh ya protesnya, panjang banget.
Dulu
sih aku orangnya bertolak belakang banget sama perkataan nyokap. Kalo nyokap
gak setuju, dalam hati selalu bilang, “yaudah sih setuju aja, repot banget.”
Tapi makin dewasa, makin aku banyak belajar dan berfikir, benar juga apa yang
nyokap pikirin, malahan sampai kagum banget sama nyokap. Ko bisa ya nyokap berfikiran
yang gak pernah aku pikirin dan makin kesana makin kebukti pasti omongannya.
Jadi mulai sekarang aku mau manut-manut aja sama perkataan nyokap.
Atas
dasar niat “mau manut-manut aja” yaudah aku bilang sama guru yang mintain
sumbangan itu, awalnya bingung mau ngomong gak ngomong gak, mau bilang saya gak
mau bayar nanti dikira pelit apa miskin banget sih nih orang bayar segitu doang
gak mau. Akhirnya, aku memutuskan untuk mebulatkan tekad, memberanikan diri
untuk…. berbicara!
Ketika
jam pelajaran guru tersebut, jam tersebut dipakai untuk menagihkan sumbangan. Dipanggil
satu persatu sesuai absen. Waktu giliran aku, di meja guru lagi banyak
anak-anak berdiri disekitarnya. Tapi aku gak peduli, aku ngomong aja.
*SUASANARAMAI*
Guru :
“Mana kamu uangnya?”
Aku : “Bu, ibu saya minta surat tentang
sumbangan ini.”
Guru : “Oh, tidak perlu surat. Inikan hanya kegiatan sosial, kalo kamu gak bisa
bayar yaudah gapapa. Lagian kan
kamu juga anak yatim.”
*menahan
kesedihan* sedikit berbagi rasa saja, seorang anak yang tidak mempunyai ayah
pasti akan sedih dibilang seperti itu apalagi pada kondisi ramai, terutama aku
yang terlalu sensitive hatinya. Aku sebal, kenapa terkadang sebagian orang
menggunakan kata anak yatim sebagai alasan, padahal seorang anak yang tidak
mempunyai ayah saja tidak mau menggunakan
alasan tersebut. Kesan yang aku tanggapi dari alasan tersebut rasanya
tuh kaya “lu gak punya bapak, wajar ajalah lu gak mampu” bahasa kasarnya
seperti itu.
(lanjut
ke dialog selanjutnya)
Setiap
anak yang bayar, akan mendapat nilai dan di tulis pada buku nilai. Aku melihat
namaku, pada kotak nilai diberikan tanda (-) aku tidak mengerti maksudnya, lalu
aku bertanya.
Aku : “Bu, itu maksudnya setiap anak yang
bayar akan mendapat nilai? Terus saya yang gak bayar gak dapat nilai?”
Guru : “Gak ko, berhubung kamu udah jujur, ya
kamu dapat nilai kejujuran”
Aku : “Lho tapi ko nama saya distrip-in
nilainya, bu?”
Guru : “Mana nama kamu?” (sambil mencari nama
dan mengisi kotak nilaiku dengan angka)
Sedikit
aneh aja, tadi dikasih tanda yang berbeda sendiri, waktu dibilangin baru
diganti. Kalo aku gak bilang mungkin nilainya kosong kali, ya.
(Balik
ke tempat duduk dengan perasaan sakit hati dengan perkataanya)
Berhubung
aku juga udah cerita sama teman-teman terdekatku sebelumnya, jadi teman
sebangku dan belakang bangkuku tau mengenai hal bahwa aku akan meminta surat.
Ketika aku kembali ketempat duduk, mereka bertanya, “gimana bib tadi?” aku
menceritakan ulang dan tak dapat membendung air mataku. Aku menundukan
kepalaku, menangis. Dan mereka yang peduli terhadapku berusaha menenangkanku.
Sepanjang
detik itu sampai bel sekolah berbunyi aku hanya mendudukan kepalaku, menangis
dalam diam. Beliau bertanya kepadaku, “Itu
mba yang disitu kenapa?” namun aku tidak ingin menjawab. Temanku mewakilkan
menjawabnya, mebuatku sedikit terhibur, “Sakit bu dia, pusing bu pusing dari
pagi belajar fiska, mtk. Biarin bu dia istirahat.” Nampaknya beliau merasa
bahwa perkataannya tadi menyinggung hatiku.
Ketika bel pulang sekolah, tidak biasanya beliau menyuruh anak cepat pulang dan keluar dari kelas dan lama duduk diatas bangku guru. Aku merasakan dia masih ada disana, aku tak mau mengangkat kepalaku sampai dia keluar. Namun aku tak tahan, terlalu lama aku di tempatku akan membuang-buang waktuku yang seharusnya sudah sampai rumah. Aku mengintip, melihat apakah masih ada dia disana. Ternayata masih ada. Dia menghampiriku, menanyakan kepadaku lagi “kamu kenapa mba? Tersinggung sama kata-kata saya tadi?” tadinya aku enggan untuk mengatakan yang sejujurnya, namun aku fikir, aku harus mengatakannya.
Lama aku tak menjawab pertanyaan dia, satu dua kali dia bertanya dan akhirnya aku menjawab. “Iya bu, saya tersinggung dengan perkataan ibu tadi.” (sambil mengangkat kepala). Kemudian kami berbicara empat mata, guru itu meminta maaf padaku atas perkataanya. Aku memberikan masukan kepadanya, dan ia menerimanya. Masalah kami terjadi pada hari itu, dan selesai pada hari itu.
Ketika bel pulang sekolah, tidak biasanya beliau menyuruh anak cepat pulang dan keluar dari kelas dan lama duduk diatas bangku guru. Aku merasakan dia masih ada disana, aku tak mau mengangkat kepalaku sampai dia keluar. Namun aku tak tahan, terlalu lama aku di tempatku akan membuang-buang waktuku yang seharusnya sudah sampai rumah. Aku mengintip, melihat apakah masih ada dia disana. Ternayata masih ada. Dia menghampiriku, menanyakan kepadaku lagi “kamu kenapa mba? Tersinggung sama kata-kata saya tadi?” tadinya aku enggan untuk mengatakan yang sejujurnya, namun aku fikir, aku harus mengatakannya.
Lama aku tak menjawab pertanyaan dia, satu dua kali dia bertanya dan akhirnya aku menjawab. “Iya bu, saya tersinggung dengan perkataan ibu tadi.” (sambil mengangkat kepala). Kemudian kami berbicara empat mata, guru itu meminta maaf padaku atas perkataanya. Aku memberikan masukan kepadanya, dan ia menerimanya. Masalah kami terjadi pada hari itu, dan selesai pada hari itu.
To be Continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar