Sabtu, 22 Maret 2014

Bicaralah. (Part2)

Mungkin aku manusia yang lancang dan terlalu berani ya, bayangin aja mulai dari guru yang biasa-biasa aja tidak ‘killer’ sampai seorang guru tua dan killer di sekolah yang gak pernah mau kalah tetap aku ajak bicara ketika aku merasa itu tidak adil bagiku. Kadang suka mikir juga sih kalo abis ngelakuin, ko berani banget ya gueeee. Gila.

(✿◠‿◠)

(Pertama kali berhadapan sama guru)
Waktu itu, di sekolah sedang ada suatu kegiatan keagamaan yang memerlukan biaya. Masing-masing anak dimintain uang untuk menyumbang agar acara tersebut berlangsung. Gak masalah sih buat aku, toh itu dari kita untuk kita. Namun, yang jadi masalah adalah nominal sumbangan yang ditentukan terlalu besar bila dikali dengan murid yang banyak di sekolah.

Berhubung belum kerja, minta duit kan sama ibunda tercinta, dan berhubung punya ibunda yang begitu kritis, dia protes sama sekolah melalui aku.  Gini protesnya, “Gimana sih guru kamu, pemerintah udah gratisin sekolah ko masih nyari celah-celah aja buat minta duit sama anak muridnya. Bayar sih gampang tinggal bayar, tapi kita sebagai orang tua harusnya mendukung program pemerintah mengenai sekolah gratis dengan tidak memberikan sekolah kesempatan memungut uang sepeser pun. Seharusnya sekolah itu udah dapat dana dari pemerintah kalo mau ngadain kegiatan-kegiatan, apalagi kegiatan rutin yang diadakan tiap tahun. Kalo kaya gitu, dikemanain coba dananya? Mantan sekolah abang kamu aja nih, takut tuh untuk minta-mintain uang kemuridnya semenjak sekolah gratis. Kalo guru kamu berani, seharusnya dia bikin surat  keterangan untuk mintain sumbangan.” kurang lebih kaya gitu deh ya protesnya, panjang banget.

Dulu sih aku orangnya bertolak belakang banget sama perkataan nyokap. Kalo nyokap gak setuju, dalam hati selalu bilang, “yaudah sih setuju aja, repot banget.” Tapi makin dewasa, makin aku banyak belajar dan berfikir, benar juga apa yang nyokap pikirin, malahan sampai kagum banget sama nyokap. Ko bisa ya nyokap berfikiran yang gak pernah aku pikirin dan makin kesana makin kebukti pasti omongannya. Jadi mulai sekarang aku mau manut-manut aja sama perkataan nyokap.

Atas dasar niat “mau manut-manut aja” yaudah aku bilang sama guru yang mintain sumbangan itu, awalnya bingung mau ngomong gak ngomong gak, mau bilang saya gak mau bayar nanti dikira pelit apa miskin banget sih nih orang bayar segitu doang gak mau. Akhirnya, aku memutuskan untuk mebulatkan tekad, memberanikan diri untuk…. berbicara!

Ketika jam pelajaran guru tersebut, jam tersebut dipakai untuk menagihkan sumbangan. Dipanggil satu persatu sesuai absen. Waktu giliran aku, di meja guru lagi banyak anak-anak berdiri disekitarnya. Tapi aku gak peduli, aku ngomong aja.

*SUASANARAMAI*
Guru       :  “Mana kamu uangnya?”
Aku        :  “Bu, ibu saya minta surat tentang sumbangan ini.”
Guru     :  “Oh, tidak perlu surat. Inikan hanya kegiatan sosial, kalo kamu gak bisa bayar yaudah        gapapa. Lagian kan kamu juga anak yatim.”


*menahan kesedihan* sedikit berbagi rasa saja, seorang anak yang tidak mempunyai ayah pasti akan sedih dibilang seperti itu apalagi pada kondisi ramai, terutama aku yang terlalu sensitive hatinya. Aku sebal, kenapa terkadang sebagian orang menggunakan kata anak yatim sebagai alasan, padahal seorang anak yang tidak mempunyai ayah saja tidak mau menggunakan  alasan tersebut. Kesan yang aku tanggapi dari alasan tersebut rasanya tuh kaya “lu gak punya bapak, wajar ajalah lu gak mampu” bahasa kasarnya seperti itu.


(lanjut ke dialog selanjutnya)
Setiap anak yang bayar, akan mendapat nilai dan di tulis pada buku nilai. Aku melihat namaku, pada kotak nilai diberikan tanda (-) aku tidak mengerti maksudnya, lalu aku bertanya.

Aku        : “Bu, itu maksudnya setiap anak yang bayar akan mendapat nilai? Terus saya yang gak bayar gak dapat nilai?”
Guru      : “Gak ko, berhubung kamu udah jujur, ya kamu dapat nilai kejujuran”
Aku        : “Lho tapi ko nama saya distrip-in nilainya, bu?”
Guru      : “Mana nama kamu?” (sambil mencari nama dan mengisi kotak nilaiku dengan angka)

Sedikit aneh aja, tadi dikasih tanda yang berbeda sendiri, waktu dibilangin baru diganti. Kalo aku gak bilang mungkin nilainya kosong kali, ya.

(Balik ke tempat duduk dengan perasaan sakit hati dengan perkataanya)

Berhubung aku juga udah cerita sama teman-teman terdekatku sebelumnya, jadi teman sebangku dan belakang bangkuku tau mengenai hal bahwa aku akan meminta surat. Ketika aku kembali ketempat duduk, mereka bertanya, “gimana bib tadi?” aku menceritakan ulang dan tak dapat membendung air mataku. Aku menundukan kepalaku, menangis. Dan mereka yang peduli terhadapku berusaha menenangkanku.


Sepanjang detik itu sampai bel sekolah berbunyi aku hanya mendudukan kepalaku, menangis dalam diam.  Beliau bertanya kepadaku, “Itu mba yang disitu kenapa?” namun aku tidak ingin menjawab. Temanku mewakilkan menjawabnya, mebuatku sedikit terhibur, “Sakit bu dia, pusing bu pusing dari pagi belajar fiska, mtk. Biarin bu dia istirahat.” Nampaknya beliau merasa bahwa perkataannya tadi menyinggung hatiku.

Ketika bel pulang sekolah, tidak biasanya beliau menyuruh anak cepat pulang dan keluar dari kelas dan lama duduk diatas bangku guru. Aku merasakan dia masih ada disana, aku tak mau mengangkat kepalaku sampai dia keluar. Namun aku tak tahan, terlalu lama aku di tempatku akan membuang-buang waktuku yang seharusnya sudah sampai rumah. Aku mengintip, melihat apakah masih ada dia disana. Ternayata masih ada. Dia menghampiriku, menanyakan kepadaku lagi “kamu kenapa mba? Tersinggung sama kata-kata saya tadi?” tadinya aku enggan untuk mengatakan yang sejujurnya, namun aku  fikir, aku harus mengatakannya.

Lama aku tak menjawab pertanyaan dia, satu dua kali dia bertanya dan akhirnya aku menjawab. “Iya bu, saya tersinggung dengan perkataan ibu tadi.” (sambil mengangkat kepala). Kemudian kami berbicara empat mata, guru itu meminta maaf padaku atas perkataanya. Aku memberikan masukan kepadanya, dan ia menerimanya. Masalah kami terjadi pada hari itu, dan selesai pada hari itu. 


To be Continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar