✿◕ ‿ ◕✿
(Kejadiaan
kedua yang tidak kalah seru)
Pelajaran
ekonomi adalah pelajaran yang penting sebenarnya dan pastinya bakalan
bermanfaat buat kita, apalagi saya sebagai perempuan nantinya bakalan menjadi
istri sekalgius ibu yang mengatur perekonomian keluarga. *ciaaatciat* Namun
pelajaran ekonomi menjadi hal yang tidak asik, menyebalkan dan menyeramkan bagi
kami (murid), karena harus mendapatkan
kenyataan mendapat guru yang seperti itu dengan beragam macam aturan yang
dibuat olehnya. Tujuan dia mungkin memang baik, menjadikan murid menjadi anak
yang disiplin. Namun, cara yang dilakukannya memberatkan dan menyusahkan murid.
Cerita
awalnya gini…..
Kami
mendapatkan tugas dari beliau membuat Jurnal Umum. Jurnal Umum merupakan
pelajaran akuntansi yang merupakan bagian dari pelajarannya. Tugas tersebut
diberikan sebelum kami libur seminggu karena kelas XII akan Ujian Sekolah.
Berhubung saya dan beberapa teman saya tidak mengerti bagaimana mengerjakannya,
kami berinisiatif mengerjakan tugas tersebut bersama-sama. Memerlukan waktu
banyak hanya untuk mengerjakan tugas tersebut, karena kami harus membuat garis
yang banyak, menghitung, dan berfikir keras memahami kalimat soal untuk membuat
Jurnal tersebut, tidak mudah lho bila kita belum memahaminya, bisa-bisa banyak
kekeliruan yang terjadi.
Tidak masalah untuk kita membuang waktu untuk mengerjakan tugas, toh itu merupakan usaha kita untuk menjadi bisa, itu tugas kita sebagai seorang pelajar untuk belajar.
Tidak masalah untuk kita membuang waktu untuk mengerjakan tugas, toh itu merupakan usaha kita untuk menjadi bisa, itu tugas kita sebagai seorang pelajar untuk belajar.
Kami
mengerjakan tugas tersebut bersama pada hari kamis saat libur, dan kebetulan
sekali ketua kelas kami meberikan info bahwa tugas tersebut harus dikumpulkan
besok, pada hari jumat pukul 11.00. Alhamdulillah lega, karena
tugasnya sudah selesai.
Keesokan
harinya, anak-anak datang ke sekolah. Aku tidak bisa lama-lama disana, akhirnya
aku menitipkan tugasku pada teman. Ketika sampai rumah, mendapat informasi
bahwa tugasnya tidak diterima. Kesel gak sih? Udah ngerjain, datang ke sekolah
hanya buat ngumpulin tugas terus gak diterima.
Huh. Akhirnya tugas tersebut disuruh dikumpulkan pada hari selasa, awal masuk setelah libur seminggu. Tugas tersebut dititipkan dengan teman kami yang rumahnya dekat sekolah, supaya kami tidak telat mengumpulkan tugas, karena kami harus mengumpulkan tugas tersebut sebelum pukul 6.00 .
Huh. Akhirnya tugas tersebut disuruh dikumpulkan pada hari selasa, awal masuk setelah libur seminggu. Tugas tersebut dititipkan dengan teman kami yang rumahnya dekat sekolah, supaya kami tidak telat mengumpulkan tugas, karena kami harus mengumpulkan tugas tersebut sebelum pukul 6.00 .
Oke,
langsung intinya yaaa…
Pada
hari selasa, ketika awal masuk setelah liburan seminggu. Temanku yang rumahnya
berdekatan dengan sekolah, datang lebih awal untuk mengumpulkan tugas kami
sekelas. Namun, hal yang tidak diinginkan terulang kembali. Tugas tersebut….
ditolak! Beliau mengatakan tidak mau menerima tugas tersebut kalau bukan
anak-anaknya yang mengumpulkan sendiri. Beliau memberikan keringanan waktu untuk
mengumpulkan sampai bel masuk sekolah berbunyi,
pukul 7.30 .
Pada hari itu, aku datang tidak telat, namun memang tidak berjauhan waktunya dengan bel sekolah berbunyi. Ketika aku sampai di sekolah, turun dari motor dan pamit pada ibuku, temanku memanggilku dari sebrang “Bibah, kumpulin tugas akuntansi, cepetan!” karena aku merasa sudah mengumpulkan aku menjawab, “Udah!” lalu temanku bilang harus mengumpulkannya sendiri. Aku panik, langsung berjalan cepat menuju kelas.
Ketika sampai lantai atas, temanku dari depan kelas memberikan buku akuntansiku dan menyuruhku cepat mengumpulkannya. Aku berlari. Namun bel berbunyi ditengah perjalananku. Temanku yang mengumpulkan sebelumku ditolak tugasnya karena sudah bel. Aku tidak terima, mengapa beliau harus memerlakukan anak muridnya sampai segitunya. Terlalu tega. Aku merasa dia tidak menghargai apa yang telah kami lakukan. Aku tak tahan, aku harus bicara padanya.
Pada hari itu, aku datang tidak telat, namun memang tidak berjauhan waktunya dengan bel sekolah berbunyi. Ketika aku sampai di sekolah, turun dari motor dan pamit pada ibuku, temanku memanggilku dari sebrang “Bibah, kumpulin tugas akuntansi, cepetan!” karena aku merasa sudah mengumpulkan aku menjawab, “Udah!” lalu temanku bilang harus mengumpulkannya sendiri. Aku panik, langsung berjalan cepat menuju kelas.
Ketika sampai lantai atas, temanku dari depan kelas memberikan buku akuntansiku dan menyuruhku cepat mengumpulkannya. Aku berlari. Namun bel berbunyi ditengah perjalananku. Temanku yang mengumpulkan sebelumku ditolak tugasnya karena sudah bel. Aku tidak terima, mengapa beliau harus memerlakukan anak muridnya sampai segitunya. Terlalu tega. Aku merasa dia tidak menghargai apa yang telah kami lakukan. Aku tak tahan, aku harus bicara padanya.
Dengan
tidak mengurangi rasa hormatku pada beliau, karena aku menghargai beliau
sebagai orang yang lebih tua, aku mengawali kalimat pembicaraanku dengan kata
“maaf”
Dialognya
gini… buat yang dengar bakalan tegang mungkin.
Aku : “Maaf ya bu, mengapa Ibu tidak bisa
menghargai usaha kami? Ibu gak tau bagaimana kita harus mengerjakan tugas dari
ibu?”
Guru : “Sudah, kamu kumpulkan tugas kamu besok,
pakai KTP dan tanda tangan orangtua! Kamu tau? Pertama, anak itu sombong.
Ngumpulin tugas aja ko pake nitip”
Aku : “Jumat kemarin kami sudah mengumpulkan
tugas kami, namun ibu tolak. Kami menitipkan tugas kami, karena belum tentu
kami bisa datang pagi.”
Guru : “Ketua kelas kamu salah informasi itu!
Harusnya kamu datang pagi buat ngumpulin tugas.”
Aku : “Tapi keadaannya saya kan tidak tau, karena
saya sudah menitipkan tugasnya sama teman, saya datang telat juga bukan kemauan
saya.”
Guru : “Ya
seharusnya kamu bilang dong sama bapak kamu……..”
Aku : (memotong pembicaraan) “Saya tidak
punya bapak!”
Guru : “Yaudah harusnya kamu bilang sama ibu kamu
buat datang lebih awal, kalo anaknya datang telat sih itu anaknya aja yang tidak
benar.”
Aku : “Terus maksud ibu, saya anak yang
tidak benar? Ibu tau gak, ibu tuh tega….” (Nangis)
Guru : (Membentak meja) “Sudah kamu! Kalau kamu
nangis ibu malah tambah marah! Sudah sana kamu sana!”
Aku : “Iya saya tau ibu tuh selalu benar,
dan murud selalu salah.”
(Meninggalkan
tempat, dan kembali ke kelas)
Kira-kira
itu kurang lebih sepenggal dialog yang aku ingat.
Sebenarnya
mudah saja, tinggal besok aku mengumpulkan tugas dengan KTP dan tanda tangan
orangtua, namun aku tidak suka caranya memerlakukan murid, dan aku gak bisa
gitu aja jadi murid yang kayanya gak berdaya apa-apa dimatanya.
Mendapat
nilai dengan beliau memang mudah, namun kita merasa tidak mendapat hak kita
sebagai muridnya. Hanya diberikan tugas yang banyak saja yang kita nikmati.
Sempat aku berfikir ingin menuntut beliau kalau dia memarahiku lagi.
✿✿✿✿✿
Ketika
pulang sekolah, aku bercerita pada ibuku tentang kejadian itu. Sebagai seorang
ibu, tentu tidak terima anaknya dilakukan seperti itu. Esoknya ibuku datang
menemaniku memberikan tugas dan menyelesaikan masalahku, berbicara padanya.
Kami berbicara kurang lebih 20 menit di ruangannya. Dia meminta maaf padaku,
dan masalah selesai. Ibuku bilang, yaudah kamu ikutin sajalah maunya, memang
orangngnya seperti itu, sebenarnya dia baik kok.
Itulah
pengalamanku. Memang hanya berbicara kata kunci untuk menyelesaikan suatu
masalah.
Semoga
Bermanfaat!
aaa ka bibaah.. tetap semangat ;) semua ada hikmahnya ko ka <3
BalasHapus