Sabtu, 22 Maret 2014

Bicaralah. (Part3)

✿◕ ‿ ◕✿


(Kejadiaan kedua yang tidak kalah seru)

Pelajaran ekonomi adalah pelajaran yang penting sebenarnya dan pastinya bakalan bermanfaat buat kita, apalagi saya sebagai perempuan nantinya bakalan menjadi istri sekalgius ibu yang mengatur perekonomian keluarga. *ciaaatciat* Namun pelajaran ekonomi menjadi hal yang tidak asik, menyebalkan dan menyeramkan bagi kami (murid),  karena harus mendapatkan kenyataan mendapat guru yang seperti itu dengan beragam macam aturan yang dibuat olehnya. Tujuan dia mungkin memang baik, menjadikan murid menjadi anak yang disiplin. Namun, cara yang dilakukannya memberatkan dan menyusahkan murid.

Cerita awalnya gini…..

Kami mendapatkan tugas dari beliau membuat Jurnal Umum. Jurnal Umum merupakan pelajaran akuntansi yang merupakan bagian dari pelajarannya. Tugas tersebut diberikan sebelum kami libur seminggu karena kelas XII akan Ujian Sekolah. Berhubung saya dan beberapa teman saya tidak mengerti bagaimana mengerjakannya, kami berinisiatif mengerjakan tugas tersebut bersama-sama. Memerlukan waktu banyak hanya untuk mengerjakan tugas tersebut, karena kami harus membuat garis yang banyak, menghitung, dan berfikir keras memahami kalimat soal untuk membuat Jurnal tersebut, tidak mudah lho bila kita belum memahaminya, bisa-bisa banyak kekeliruan yang terjadi.

Tidak masalah untuk kita membuang waktu untuk mengerjakan tugas, toh itu merupakan usaha kita untuk menjadi bisa, itu tugas kita sebagai seorang pelajar untuk belajar.

Kami mengerjakan tugas tersebut bersama pada hari kamis saat libur, dan kebetulan sekali ketua kelas kami meberikan info bahwa tugas tersebut harus dikumpulkan besok, pada hari jumat pukul 11.00. Alhamdulillah lega, karena tugasnya sudah selesai.

Keesokan harinya, anak-anak datang ke sekolah. Aku tidak bisa lama-lama disana, akhirnya aku menitipkan tugasku pada teman. Ketika sampai rumah, mendapat informasi bahwa tugasnya tidak diterima. Kesel gak sih? Udah ngerjain, datang ke sekolah hanya buat ngumpulin tugas terus gak diterima.

Huh.  Akhirnya tugas tersebut disuruh dikumpulkan pada hari selasa, awal masuk setelah libur seminggu. Tugas tersebut dititipkan dengan teman kami yang rumahnya dekat sekolah, supaya kami tidak telat mengumpulkan tugas, karena kami harus mengumpulkan tugas tersebut sebelum pukul 6.00 .

Oke, langsung intinya yaaa…

Pada hari selasa, ketika awal masuk setelah liburan seminggu. Temanku yang rumahnya berdekatan dengan sekolah, datang lebih awal untuk mengumpulkan tugas kami sekelas. Namun, hal yang tidak diinginkan terulang kembali. Tugas tersebut…. ditolak! Beliau mengatakan tidak mau menerima tugas tersebut kalau bukan anak-anaknya yang mengumpulkan sendiri. Beliau memberikan keringanan waktu untuk mengumpulkan sampai bel masuk sekolah berbunyi,  pukul  7.30 .

Pada hari itu, aku datang tidak telat, namun memang tidak berjauhan waktunya dengan bel sekolah berbunyi. Ketika aku sampai di sekolah, turun dari motor dan pamit pada ibuku, temanku memanggilku dari sebrang “Bibah, kumpulin tugas akuntansi, cepetan!” karena aku merasa sudah mengumpulkan aku menjawab, “Udah!” lalu temanku bilang harus mengumpulkannya sendiri. Aku panik, langsung berjalan cepat menuju kelas.

Ketika sampai lantai atas, temanku dari depan kelas memberikan buku akuntansiku dan menyuruhku cepat mengumpulkannya. Aku berlari. Namun bel berbunyi ditengah perjalananku. Temanku yang mengumpulkan sebelumku ditolak tugasnya karena sudah bel. Aku tidak terima, mengapa beliau harus memerlakukan anak muridnya sampai segitunya. Terlalu tega. Aku merasa dia tidak menghargai apa yang telah kami lakukan. Aku tak tahan, aku harus bicara padanya.


Dengan tidak mengurangi rasa hormatku pada beliau, karena aku menghargai beliau sebagai orang yang lebih tua, aku mengawali kalimat pembicaraanku dengan kata “maaf”

Dialognya gini… buat yang dengar bakalan tegang mungkin.

Aku       : “Maaf ya bu, mengapa Ibu tidak bisa menghargai usaha kami? Ibu gak tau bagaimana kita harus                     mengerjakan tugas dari ibu?”
Guru      : “Sudah, kamu kumpulkan tugas kamu besok, pakai KTP dan tanda tangan orangtua! Kamu tau?                    Pertama, anak itu sombong. Ngumpulin tugas aja ko pake nitip”
Aku       : “Jumat kemarin kami sudah mengumpulkan tugas kami, namun ibu tolak. Kami menitipkan tugas                     kami, karena belum tentu kami bisa datang pagi.”
Guru      : “Ketua kelas kamu salah informasi itu! Harusnya kamu datang pagi buat ngumpulin tugas.”
Aku       : “Tapi keadaannya saya kan tidak tau, karena saya sudah menitipkan tugasnya sama teman, saya                     datang telat juga bukan kemauan saya.”
Guru      :  “Ya seharusnya kamu bilang dong sama bapak kamu……..”
Aku       : (memotong pembicaraan) “Saya tidak punya bapak!”
Guru     : “Yaudah harusnya kamu bilang sama ibu kamu buat datang lebih awal, kalo anaknya datang telat                   sih itu anaknya aja yang tidak benar.”
Aku          : “Terus maksud ibu, saya anak yang tidak benar? Ibu tau gak, ibu tuh tega….” (Nangis)
Guru      : (Membentak meja) “Sudah kamu! Kalau kamu nangis ibu malah tambah marah! Sudah sana kamu                 sana!”
Aku        : “Iya saya tau ibu tuh selalu benar, dan murud selalu salah.”
(Meninggalkan tempat, dan kembali ke kelas)
Kira-kira itu kurang lebih sepenggal dialog yang aku ingat.

Sebenarnya mudah saja, tinggal besok aku mengumpulkan tugas dengan KTP dan tanda tangan orangtua, namun aku tidak suka caranya memerlakukan murid, dan aku gak bisa gitu aja jadi murid yang kayanya gak berdaya apa-apa dimatanya.

Mendapat nilai dengan beliau memang mudah, namun kita merasa tidak mendapat hak kita sebagai muridnya. Hanya diberikan tugas yang banyak saja yang kita nikmati. Sempat aku berfikir ingin menuntut beliau kalau dia memarahiku lagi.



Ketika pulang sekolah, aku bercerita pada ibuku tentang kejadian itu. Sebagai seorang ibu, tentu tidak terima anaknya dilakukan seperti itu. Esoknya ibuku datang menemaniku memberikan tugas dan menyelesaikan masalahku, berbicara padanya. Kami berbicara kurang lebih 20 menit di ruangannya. Dia meminta maaf padaku, dan masalah selesai. Ibuku bilang, yaudah kamu ikutin sajalah maunya, memang orangngnya seperti itu, sebenarnya dia baik kok.

Itulah pengalamanku. Memang hanya berbicara kata kunci untuk menyelesaikan suatu masalah.

Semoga Bermanfaat! 

1 komentar: